Bekerja di ruang kantor tidak hanya duduk di kursi saja, tetapi juga bagaimana lingkungan fisik memengaruhi kesehatan dan kinerja seseorang. Faktor seperti pencahayaan, suhu, kelembapan, serta pengaturan ergonomi memiliki dampak signifikan terhadap kenyamanan dan produktivitas. Menurut PMC pengaturan lingkungan kerja yang tepat dapat mengurangi kelelahan, menurunkan risiko gangguan visual, dan meningkatkan fokus serta efisiensi pekerja.
Pencahayaan adalah salah satu elemen utama dalam menciptakan ruang kerja yang sehat. Cahaya yang baik bukan hanya membuat ruangan terlihat terang, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mata dan ritme sirkadian tubuh. Menurut penelitian yang dikutip dari BenQ dan MDPI, pencahayaan yang tepat mampu mengurangi kelelahan visual dan meningkatkan konsentrasi. Sebaliknya, pencahayaan yang buruk atau tidak merata dapat menyebabkan sakit kepala dan menurunkan performa kerja.
Selain pencahayaan, suhu dan kelembapan udara juga berperan penting dalam menjaga kenyamanan termal pekerja. Suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin dapat mengganggu fokus, meningkatkan stres, dan menurunkan produktivitas. Menurut EHS Today dan IJSDR, idealnya keseimbangan suhu (20-24 derajat Celcius) dan kelembapan (30-60%) dapat mencegah tubuh kehilangan cairan berlebih, menjaga kenyamanan pernapasan, dan mengurangi risiko gangguan kesehatan seperti kulit kering atau alergi debu.
Faktor berikutnya yang tidak kalah penting adalah ergonomi. Aspek ini melibatkan pengaturan posisi kerja agar tubuh tidak mengalami tekanan berlebihan saat bekerja dalam waktu lama. Penataan yang baik mencakup ketinggian meja dan kursi yang sesuai, monitor sejajar dengan pandangan mata, serta ruang gerak yang memadai. Ergonomi yang benar membantu mencegah sakit punggung, leher, dan bahu, serta memungkinkan pekerja mempertahankan postur ideal tanpa kelelahan berlebih.
Keempat faktor — pencahayaan, suhu, kelembapan, dan ergonomi — saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Begitu pula suhu yang tidak nyaman bisa membuat seseorang sering mengubah posisi duduk, yang akhirnya memengaruhi stabilitas ergonomi.
Untuk menerapkan lingkungan kerja yang sehat, perusahaan dapat melakukan beberapa langkah sederhana. Pertama, pastikan pencahayaan diatur pada intensitas yang sesuai dan hindari silau langsung dari lampu atau jendela. Kedua, jaga suhu ruangan agar tetap stabil dan pastikan sistem ventilasi serta kelembapan berfungsi dengan baik. Ketiga, gunakan kursi dan meja yang bisa disesuaikan tinggi-rendahnya agar postur kerja tetap ideal. Keempat, pastikan setiap pekerja memiliki ruang gerak yang cukup serta waktu untuk melakukan peregangan singkat.
Manfaat jangka panjang dari lingkungan kantor yang sehat sangat signifikan. Dengan pencahayaan, suhu, kelembapan, dan ergonomi yang sesuai, pekerja cenderung mengalami lebih sedikit keluhan fisik, lebih fokus dalam bekerja, dan memiliki tingkat stres yang lebih rendah. Sebaliknya, ruang kerja yang tidak memenuhi standar dapat menimbulkan sindrom sick building, yaitu kondisi di mana penghuni mengalami gangguan kesehatan akibat kualitas lingkungan yang buruk.
Di Indonesia, masih banyak ruang kantor yang belum sepenuhnya memenuhi standar pencahayaan, suhu, dan kelembapan ideal. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi rutin terhadap kondisi lingkungan kerja serta edukasi kepada karyawan mengenai pentingnya istirahat, peregangan, dan penyesuaian posisi tubuh. Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, perusahaan di Indonesia dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan bagi seluruh karyawannya.
Author. Wahyu Amri R
Editor. Dilah Adi Tri D











