Analisis Budaya Keselamatan (Safety Culture) di Indonesia: Tantangan Regulasi dan Pembelajaran dari Negara Maju

Jan 18, 2026

Budaya keselamatan (safety culture) merupakan elemen fundamental dalam sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di dunia industri. Safety culture mencerminkan nilai, sikap, dan perilaku kolektif organisasi dalam memprioritaskan keselamatan kerja. Isu ini menjadi semakin penting seiring tingginya angka kecelakaan kerja yang menunjukkan bahwa penerapan keselamatan belum sepenuhnya terinternalisasi sebagai budaya, melainkan masih dominan pada pemenuhan administratif.

Secara regulatif, Indonesia telah memiliki kerangka hukum yang cukup kuat, antara lain Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen K3. Namun, berbagai evaluasi menunjukkan bahwa implementasi regulasi tersebut masih bersifat compliance-based, belum sepenuhnya mendorong perubahan perilaku dan kepemimpinan keselamatan yang berkelanjutan.

Sebaliknya, negara-negara maju di Eropa menunjukkan tingkat kematangan safety culture yang lebih tinggi. Data European Agency for Safety and Health at Work mencatat rata-rata fatalitas kerja di Uni Eropa berada di bawah 2 kematian per 100.000 pekerja, jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia. Keberhasilan ini didukung oleh pendekatan preventive safety, pelibatan aktif pekerja, serta integrasi keselamatan dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan.

Di Jepang, safety culture dibangun melalui filosofi “anzen daiichi” (keselamatan adalah yang utama) dan pendekatan perbaikan berkelanjutan (kaizen). Sementara itu, Amerika Serikat menerapkan safety culture melalui pengawasan ketat dan penegakan hukum oleh Occupational Safety and Health Administration (OSHA).

Berdasarkan komparasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa tantangan utama safety culture di Indonesia bukan pada ketiadaan regulasi, melainkan pada rendahnya internalisasi nilai keselamatan dalam perilaku organisasi. Transformasi menuju budaya keselamatan yang matang memerlukan kepemimpinan yang konsisten, partisipasi aktif pekerja, serta pergeseran paradigma dari kepatuhan administratif menuju keselamatan sebagai nilai inti pembangunan industri nasional.

Author: Dilah Adi Tri D | Editor: M G Afandi

Search

Kegiatan Lainnya