Alat Ukur K3 Menurut Pemenaker No. 5 Tahun 2018

Dec 15, 2025

Menurut data KEMNAKER (2023), 60% kecelakaan kerja terjadi karena lingkungan kerja tidak terpantau dengan baik. Padahal, dengan alat ukur yang tepat risiko bisa dideteksi sebelum terjadi. Regulasi ini menetapkan bahwa pengukuran harus dilakukan terhadap faktor-faktor bahaya seperti fisika, kimia, biologi, ergonomi, dan psikologi, serta memastikan semua parameter berada di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan untuk melindungi kesehatan pekerja.

Berikut ini alat ukur K3 yang digunakan guna memantau kondisi lingkungan kerja secara akurat:

  1. Sound Level meter merupakan Alat Ukur Kebisingan dalam desibel/dB. Umumnya berasal dari mesin, peralatan produksi atau aktivitas operasional. Contoh kasus nyata pada pabrik tekstil di Tangerang (2023) 12 karyawan mengajukan PHK karena kehilangan 80% pendengaran akibat mesin berisik 95 dB tanpa pengawasan. Menurut Permenaker No. 5 Tahun 2018 paparan >85 dB selama 8 jam dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Jika melebihi, wajib dilakukan: rekayasa teknik (isolasi mesin, peredam suara), rotasi pekerja, dan penggunaan APD (earplug/earmuff).
  2. Gas Detctor merupakan Alat Pendeteksi Gas Berbahaya seperti CO (karbon monoksida), H2S (hidrogen sulfida), atau gas mudah terbakar (LPG, metana). Contoh kasus nyata pada Insiden PLTU Jawa Tengah 2022, 3 pekerja tewas keracunan CO karena gas detector tidak aktif. Sedangkan batas aman sesuai Permenaker No. 13 Tahun 2011 untuk CO < 35 ppm, dan H2S < 10 ppm. Jika terdeteksi melebihi NAB maka perlu dilakukan evakuasi area, ventilasi udara, dan penggunaan APD (respirator).
  3. Thermal Hygrometer atau Alat Pengukur Suhu & Kelembapan Udara di Lingkungan Kerja. Contoh kasus nyata terjadi pada karyawan gudang di Surabaya pingsan akibat suhu mencapai 38 derajat Celcius (Tribun News, 2023). Sedangkan Permenaker No. 7 Tahun 2019 menetapkan bahwa suhu ideal 24-27 derajat Celcius dan kelembapan ideal 40-60%, jika di luar batas perlu dilakukan pendinginan/pemanasan ruangan, pembatasan waktu kerja, dan penyediaan air minum. Sehingga solusinya pantau setiap 2 jam di area outdoor dan sediakan cooling vest.
  4. Lux Meter merupakan Alat pengukur intensitas pencahayaan di area kerja. Contoh kasus nyata terjadi pada karyawan IT di Jakarta mengeluh migrain kronis akibat pencahayaan kurang (Kemenkes, 2020). SNI 16-7062-2004 menetapkan lux meter untuk kantor 300-500 lux, area produksi > 750 lux, dan laboratorium 1000 lux. Jika tidak memenuhi, perlu ditambahkan lampu kerja, gunakan warna dinding cerah, dan atur tata letak workstation.
  5. Vibration Meter merupakan Alat Pengukur Getaran mekanis dari mesin atau alat berat yang berdampak pada tubuh pekerja (dalam m/s2). Contoh kasus nyata terjadi pada operator bor di pertambangan mengalami matinya jaringan tangan akibat getaran (Jurnal K3, 2021). ISO 5349 menetapkan batas aman di 1,25 m/s2 (paparan 8 jam/hari) wajib untuk operator chainsaw, bor, dan alat berat.

Implementasi pengukuran K3 yang efektif tidak hanya memenuhi persyaratan regulasi, tetapi juga berkontribusi meningkatkan produktivitas dan mencegah kecelakaan kerja serta penyakit akibat kerja. PT Aurora Bisnis Internasional sebagai mitra profesional dalam layanan K3, Inspeksi, dan Pengujian Alat siap membantu perusahaan Anda dalam pemilihan, penggunaan, dan kalibrasi alat ukur K3 sesuai ketentuan terbaru dari Permenaker No. 5 Tahun 2018.

Search

Kegiatan Lainnya